infonesia.xyz – Raksasa layanan TI Wipro memecat 300 karyawan dalam beberapa bulan terakhir. Uniknya, karyawan tersebut dipecat karena bekerja sampingan di perusahaan pesaing, kata seorang eksekutif.

Peluang karyawan bekerja di tempat pesaing disebut terjadi karena sistem bekerja dari rumah atau yang dikenal Work from Home (WFH), demikian dikutip dari TechCrunch, Kamis (22/9/2022).

Chairman Wipro Rishad Premji mengatakan bahwa perusahaan menemukan pekerjaan sampingan bagi pesaing sebagai “tindakan pelanggaran integritas.”

“Sebagai bagian dari transparansi, individu dapat melakukan percakapan yang jujur dan terbuka seputar bermain di band atau mengerjakan proyek selama akhir pekan. Itu adalah percakapan terbuka di mana organisasi dan individu dapat membuat pilihan bersama, apakah itu berhasil untuk mereka atau tidak,” katanya.

Namun, tidak ada ruang bagi karyawan yang bekerja untuk Wipro tapi juga bekerja dengan pesaing mereka dengan mengerjakan hal yang sama.

“Itulah yang saya maksud, jadi saya tetap pada apa yang saya katakan. Saya pikir itu adalah pelanggaran integritas jika Anda bekerja sambilan dalam bentuk dan rupa itu,” tuturnya.

Semakin banyak pekerja kerah putih, mulai dari teknologi hingga industri perbankan, diam-diam mengambil pekerjaan kedua sebagai bentuk antisipasi atas kekhawatiran tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), atau memanfaatkan akuntabilitas yang lebih rendah saat bekerja dari rumah.

Beberapa startup merangkul kerja sambilan sebagai keuntungan. Swiggy, startup pengiriman makanan paling berharga di India, mengatakan kepada karyawan bulan lalu bahwa mereka dapat mengambil pekerjaan kedua untuk pertimbangan ekonomi dengan syarat mendapatkan persetujuan internal.

Startup fintech yang berkantor pusat di Bengaluru, Slice, tahun lalu menawarkan karyawan baru selama tiga hari seminggu dengan gaji 80% dari tarif pasar yang berlaku. Perjanjian kerja memungkinkan karyawan untuk memiliki pekerjaan kedua.