infonesia.xyz – Sebagai guru siswa berkebutuhan khusus, Tati Purba paham pentingnya pendekatan dan perlakuan berbeda ketika mengasuh, mendidik, hingga melatih mereka.

Oleh karena itu, guru Sekolah Luar Biasa Negeri 6 Jakarta itu mesti kreatif serta pantang menyerah mencari cara agar anak khusus (ABK) mau belajar untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai untuk diri mereka.

Kesabaran tersebut ditunjukkan ketika melatih membatik dengan teknik kepada 10 siswa 4 Jakarta penyandang tunarungu di sekolah tersebut.

“Motivasi mengajar kita tidak boleh kalah dari murid-murid yang sedang diajari,” ujar yang sudah puluhan tahun mendidik siswa khusus itu.

> khusus itu setiap mereka selesai belajar,”katanya.

biasa memotivasi anak-anak didiknya yang sudah penat itu dengan mengalihkan pada kegiatan lain, misalnya, mengajak mereka melihat karya-karya yang sudah pernah dibuat.

Tujuannya, agar nanti saat pameran, anak-anak itu melihat sendiri bahwa banyak orang yang bersedia membayar kain batik berukuran 2 meter dengan harga Rp1 juta.

“Wah mahal sekali, kain 2 meter itu harganya Rp1 juta,” kata Tati menirukan komentar siswa berkebutuhan khusus tersebut.

Ketika anak-anak mengetahui kain batik yang mereka buat itu mahal, akhirnya semangat belajar mereka kembali meletup. Di kelas, mereka bisa kembali diajak bercerita. Siswa pun bisa diajak bercerita mengenai cita-cita mereka setelah lulus.

Setelah lulus, mereka juga ingin bisa menghasilkan uang sendiri. Ketika mendengar cerita tersebut, guru tinggal memotivasi agar mereka membuat kain batik yang bagus, supaya bisa menghasilkan uang sendiri. Ujungnya, motivasi anak-anak itu muncul sendiri.

Sebagai pendidik siswa difabel (different ability), ia sudah sering mengajari anak-anak > >

Penerima penghargaan Ibu Kota > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > tersebut berlatih membatik menggunakan teknik > > > > > > > > > > > > > > > > ke Menteri Badan Usaha Milik Negara > > > > > >

>Lebih terampil

Senada, Kepala > > > > > sebanyak 28 jam pelajaran,” katanya.

Bobot pembelajaran keterampilan dilebihkan dengan maksud membekali lebih banyak keahlian kepada para peserta didik, agar bisa digunakan sebagai modal berwirausaha mereka di masa depannya.

Guru-guru di Negeri 4 Jakarta menggiring anak-anak didiknya agar menguasai keterampilan menjahit. Bukan berarti mengharapkan peserta didik itu sekadar menjadi desainer atau penjahit saja, tapi bisa lebih dari itu. Misalnya, menjadi wirausahawan yang memproduksi baju-baju buatan sendiri.

Editor: AchmadZaenalM