infonesia.xyz – Rusia meluncurkan referendum di empat wilayah Ukraina yang mereka duduki. Penduduk setempat dilarang bepergian selama masa pemilihan umum.

Perwakilan otoritas Ukraina menyatakan penduduk tidak boleh meninggalkan beberapa wilayah yang dikuasai Rusia selama empat hari. Gerombolan bersenjata datang ke tiap rumah penduduk dan mengancam pekerja dengan pemecatan jika mereka tidak ikut memilih.

Presiden Ukraina Voloymyr Zelenskiy mengatakan bahwa pemungutan suara tersebut dikecam seluruh dunia, seperti halnya pengumuman “mobilisasi” Rusia ke Crimea dan beberapa area lainnya di Ukraina.

“Ini bukan hanya kejahatan melawan hukum Ukraina dan internasional, ini adalah kejahatan terhadap kelompok tertentu, terhadap suatu bangsa,” kata Zelenskiy seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (24/9/2022).

Referendum tersebut adalah bagian dari reaksi tergesa-gesa Rusia setelah Ukraina sukses mengambil alih kendali beberapa wilyah di timur laut pada awal bulan ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengumumkan wajib militer di Rusia. Ia ingin merekrut 300.000 orang tambahan untuk ikut bertempur di Ukraina.

“Sembunyi dari mobilisasi Rusia, bagaimana pun caranya. Hindari wajib militer. Coba untuk pindah ke wilayah Ukraina yang bebas,” kata Zelenskiy.

Dengan menggelar referendum dan mencaplok empat wilayah di Ukraina, Moskow bisa menggambarkan serangan di daerah tersebut sebagai tindakan agresif ke Rusia. Ini juga bisa jadi alasan Putin untuk meluncurkan respons menggunakan senjata nuklir.

Putin dan pejabat Rusia lain telah beberapa kali menyebut senjata nuklir sebagai pilihan terakhir.

Rusia menggelar referendum di empat provinsi yaitu Luhans, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia di bagian timur dan timur laut Ukraina, yang mencakup 15% dari luas wilayah negara itu.