infonesia.xyz Permainan ini termasuk yang sangat diminati anak-anak. Hanya perlu Rp1.000 untuk ditukarkan menjadi koin yang akan dimasukkan ke dalam mesin.

Setelah koin masuk, mesin bisa digunakan untuk mengambil boneka.

Sebagian orang tua melarang keras anaknya dalam bermain capit boneka karena permainan tersebut dianggap seperti judi. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama ( NU ) melalui Lembaga Bathsul Masail NU Purworejo membahas hal ini pada Sabtu, 17 September 2022.

Anggota Tim Perumus Masalah, KH Romli Hasan, menjelaskan permainan capit boneka mulai meresahkan para orang tua. Pasalnya ada orang tua yang menganggap permainan tersebut judi tetapi ada pula yang menganggapnya hanya permainan biasa.

“Kita para ulama di NU tergerak untuk membahasnya, sehingga persoalannya menjadi jelas dan orang tua tidak lagi merasa waswas,” tutur Romli dikutip Pikiran-Rakyat.com dari laman resmi NU Jawa Tengah.

Baca Juga: Macam-Macam Alergi dan Efeknya pada Tubuh, Simak Penjelasannya

Dari hasil pembahasan LBMNU Purworejo , keputusan mengenai hukum permainan capit boneka adalah haram.

Hal ini disebabkan permainan capit mengandung unsur perjudian. Unsur yang dimaksud yaitu setiap penyerahan harta sebagai perbandingan suatu kemanfaatan yang akan diterima tetapi kemanfaatan tersebut berdasarkan spekulasi belaka.

Selain itu, praktik permainan capit tidak bisa diarahkan kepada akad ijarah atau praktik sewa menyewa sebab jika pemain sudah tahu bahwa dia akan gagal, maka dia tidak akan mengikuti permainan tersebut.

Baca Juga: Dendam! Ahli Tarot Ramal Ferdy Sambo Akan Bongkar Rahasia Terkait ‘Lingkaran Busuk’ Polri

Oleh karenanya, orang tua atau wali harus melarang anak dari memainkannya dengan cara menegur dan menasihati sebab adanya unsur perjudian yang dilarang agama.

Rujukan dalam pembahasan ini adalah Hasyiyah As-Shawi, juz 1 halaman 140, Rowaiul Bayan Tafsir Ayatul Ahkam, juz 1 halaman 279, Al-Fiqhul Islam Wa Adilatuh, juz 4 halaman 2662, Isadur Rafiq, juz 2 halaman 102, serta Fathul Mu’in dan Hasyiyah Ianatu Tholibin, juz 3 halaman 135.

Musahih dalam pembahasan ini ialah KH Abdul Hadi, KH Mas’udi Yusuf, K Muhsin, dan KH Asnawi.(Katiasa Utami)***