infonesia.xyz“Saya menghubungi keluarganya pada kesempatan pertama dan saya meyakinkan mereka bahwa kami akan terus menyelidiki insiden itu … Perhatian utama kami adalah melindungi hak-hak setiap warga negara,” ujar Raisi.

Terkait kematian Mahsa Amini, Raisi mengatakan bahwa pihak berwenang harus melakukan apa yang sudah seharusnya mereka lakukan.

Baca Juga: Cetak Gol Cantik di Timnas Denmark, Aksi Eriksen Dinanti Fans MU jelang Lawan Man City

“Tanggung jawab itu sekarang berada di tangan pengadilan,” tuturnya menambahkan.

Setidaknya 31 orang tewas dalam aksi protes kematian Mahsa Amini, wanita Kurdi berusia 22 tahun yang meninggal pada 16 September 2022.

Diketahui pengunjuk rasa berbondong-bondog membakar kantor polisi dan kendaraan di beberapa kota di Iran pada Kamis, 22 September 2022.

Iran pun memblokir akses internet, seperti Instagram dan WhatsApp di beberapa wilayah Teheran dan Kurdistan, sebagai upaya yang dianggap mengekang gerakan protes yang semakin meluas.

Sebagai bentuk protes, sejumlah wanita Iran juga terjun ke jalanan dan berkoar di internet untuk menunjukkan bahwa mereka telah membakar jilbab dan memotong rambut mereka.

Diberitakan sebelumnya, Mahsa Amini dinyatakan tewas di sebuah rumah sakit Iran setelah beberapa hari ditahan oleh polisi karena tidak mematuhi peraturan hijab di negara tersebut.

Saat itu, ia tengah bepergian dengan keluarganya dari Kurdistan ke ibu kota Teheran untuk mengunjungi kerabatnya. Pasalnya, Amini ditangkap karena diduga mengenakan jilbab dengan cara yang ‘tidak pantas.

Seorang saksi mata melaporkan, Amini dipukuli di mobil polisi. Seorang aktivis juga mengatakan, Amini mengalami pukulan fatal di kepala.

Namun, polisi menepis tudingan tersebut. Pihaknya bersikukuh mengatakan bahwa Amini meninggal karena faktor alami, yakni menderita serangan jantung.

Di sisi lain, keluarganya mencurigai bahwa Amini menjadi sasaran penganiayaan oleh polisi akibat gagal mematuhi regulasi pakaian yang ketat di negara itu. Menurut mereka, Amini merupakan wanita sehat dan tidak mengidap masalah kesehatan apa pun.

Dalam sebuah pernyataan, Presiden Raisi dinilai berusaha membalikkan keadaan dengan bertanya tentang berbagai kasus penembakan polisi di Amerika Serikat (AS).

“Apakah semua kematian itu diselidiki?” tuturnya.

Raisi yang berpidato di majelis umum pada Rabu, 21 September 2022, mengatakan bahwa berbagai hal buruk akan terjadi pada orang-orang yang jatuh ke tangan pihak berwenang di mana-mana, merujuk pada AS dan Inggris.

Ia pun menyerukan, ‘standar yang sama’ diberlakukan di seluruh dunia ketika menangani kematian, layaknya kasus Amini, di tangan pihak berwenang.

Protes terhadap kematian Amini telah berkembang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Aksi ini disebut-sebut sebagai demonstrasi paling serius sejak 2019, ketika protes pecah akibat kenaikan harga bahan bakar.

“Tentu saja ini (demonstrasi) normal dan dapat diterima sepenuhnya … Kita harus membedakan antara demonstrasi dan vandalisme. Demonstrasi itu bagus untuk mengekspresikan isu-isu tertentu,” tutur sang presiden.

Di sisi lain, AS mengecam polisi ‘moral’ dan pemimpin badan keamanan Iran lainnya pada Kamis.

“( Iran ) terus menggunakan kekerasan untuk menekan para pengunjuk rasa yang melakukan protes dengan damai,” tutur AS. (Khadijah Ardallyana Qirba)***