infonesia.xyz – Kematian Mahsa Amini di Iran memicu seminggu gelombang protes dari massa yang marah.

Mahsa Amini tewas setelah ditangkap polisi moral Iran pada pekan lalu, karena disebut mengenakan jilbab secara tidak pantas.

Beberapa demonstran wanita dengan berani melepaskan jilbab mereka dan melemparkannya ke api, atau secara simbolis memotong rambut di hadapan massa yang bersorak-sorai.

Demo Iran kali ini adalah yang terbesar di negara tersebut sejak kerusuhan November 2019 terkait kenaikan harga bahan bakar. Unjuk rasa sekarang juga dihadiri sejumlah besar perempuan.

Dikutip dari kantor berita AFP pada Kamis (22/9/2022), berikut adalah kronologi kematian Mahsa Amini Iran .

1. Penangkapan Mahsa Amini

Mahsa Amini adalah perempuan Kurdi berusia 22 tahun. Ia sedang berkunjung ke Teheran bersama keluarganya pada 13 September 2022 ketika ditahan polisi moral, yaitu unit polisi khusus yang memberlakukan aturan ketat pakaian untuk wanita Iran, termasuk kewajiban berjilbab.

Saudara laki-lakinya yang bernama Kiaresh mengatakan kepada situs berita Iran Wire, ketika dia menunggu di luar kantor polisi agar Mahsa Amini dibebaskan, sebuah ambulans melaju melewatinya dan membawa saudara perempuannya itu ke rumah sakit.

Dia diberitahu bahwa Mahsa Amini mengalami serangan jantung dan kejang otak lalu koma.

Polisi Teheran mengatakan, Mahsa Amini tiba-tiba menderita masalah jantung dan merilis rekaman CCTV yang menunjukkan dia pingsan di kantor polisi.

Mahsa Amini dinyatakan meninggal pada 16 September 2022 dan diumumkan televisi Pemerintah Iran setelah tiga hari koma.

Para aktivis mengatakan bahwa Mahsa Amini mengalami pukulan fatal di kepala, tetapi klaim tersebut dibantah oleh polisi. Presiden Iran Ebrahim Raisi kemudian memerintahkan penyelidikan.

Tak lama setelah kematian Mahsa Amini diumumkan, massa berkumpul di luar rumah sakit Kasra di Teheran tengah.

Di kampung halaman Mahsa Amini di Saghez, lokasi jenazahnya dimakamkan pada 17 September 2022, beberapa warga melemparkan batu ke kantor gubernur dan meneriakkan slogan-slogan anti-rezim, menurut kantor berita Iran Fars.

Kepala kantor pemeriksa medis Teheran berkata kepada stasiun tv pemerintah, penyelidikan penyebab kematian Mahsa Amini akan memakan waktu hingga tiga minggu untuk diselesaikan.

2. Luapan amarah massa

Aparat keamanan pada 18 September 2022 menangkap beberapa orang di antara sekitar 500 demonstran di Sanandaj, Provinsi Kurdistan, lapor kantor berita Fars.

Para pengunjuk rasa memecahkan jendela beberapa mobil yang diparkir, membakar tempat sampah, dan polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan, lanjut Fars.

Di Twitter, tagar #Masha_Amini mencatatkan hampir 1,5 juta twit hingga Minggu (18/9/2022) tengah hari, termasuk banyak video perempuan memotong rambut mereka sebagai protes.

“Rambut gadis-gadis kami ditutupi kain kafan,” sindir beberapa pesepak bola tim nasional Iran dalam Instagram Story bersamaan.

Pada Senin (19/9/2022), demo Iran pecah di beberapa universitas ibu kota Teheran.

3. Tindakan keras aparat

Pada Selasa (20/9/2022), Gubernur Provinsi Kurdistan menyampaikan bahwa tiga orang tewas saat berdemo di sana.

Video-video yang diunggah ke media sosial menunjukkan beberapa perempuan melepas jilbab mereka dan meneriakkan kata-kata “Wanita, hidup, kebebasan” serta “Matilah diktator”. Slogan yang terakhir ditujukan kepada Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran.

Sejumlah video juga menunjukkan pengunjuk rasa merusak atau membakar foto Khamenei dan mendiang komandan Garda Revolusi Iran Qasem Soleimani.

Di tengah kecamuk amarah massa, perwakilan Khamenei mengunjungi keluarga Mahsa Amini.

Dalam sikap yang jarang terjadi seperti ini, seorang anggota parlemen Iran bernama Jalal Rashidi Koochi mengkritik polisi moral atau Patroli Pembimbing dengan berujar, “Tidak ada hasilnya selain kerugian dan kerusakan bagi negara”.

Pada Rabu (21/9/2022), media pemerintah melaporkan bahwa pada unjuk rasa malam kelima, polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan hingga 1.000 orang yang melemparkan batu ke pasukan keamanan, membakar kendaraan polisi, serta meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah di kota-kota termasuk Mashhad, Tabriz, Isfahan, dan Shiraz.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden dalam pidatonya di Sidan Umum PBB menyatakan, “Kami mendukung warga negara pemberani dan wanita pemberani Iran yang saat ini berdemonstrasi untuk mengamankan hak-hak dasar mereka”.

4. Internet diblokade

Setelah hampir seminggu demo pecah hingga Kamis (22/9/2022), Iran memblokade akses ke Instagram dan WhatsApp, dua aplikasi yang paling banyak digunakan di Iran, serta memberlakukan pembatasan ketat pada akses internet.

Korban tewas meningkat menjadi sedikitnya 17 termasuk empat personel keamanan, menurut televisi pemerintah.

Namun, LSM Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Oslo menyebutkan bahwa setidaknya 31 warga sipil tewas dalam unjuk rasa akibat kematian Mahsa Amini Iran.