infonesia.xyz – Dalam Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pada Rabu (21/9/2022), The Federal Reserve atau The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin menjadi 3-3,25 persen.

Senior ekonom Bank DBS Indonesia Radhika Rao menilai, kebijakan The Fed ini akan berdampak ke negara-negara berkembang. Namun, ekonomi di Indonesia yang mulai pulih dinilai akan menyebabkan dampak yang dirasakan tidak terlalu besar.

“Apa yang terjadi di AS juga akan berdampak ke Tanah Air. Dalam hal pandangan global, kami melihat ekonomi Indonesia mulai pulih. Di mana mobilitas, seperti masyarakat yang mulai ke kantor, ke sekolah, dan pariwisata yang bergeliat mendorong optimisme,” kata Radhika di Kantor BDS Bank, Kamis (22/9/2022).

Radhika mengungkapkan, indeks kepercayaan konsumen di Indonesia juga mulai meningkat, sehingga optimisme kebangkitan ekonomi juga muncul. Sementara negara berkembang mengalami masalah supply chain, Indonesia justru diuntungkan dari sektor komoditi. Pun demikian sektor manufaktur yang mulai bangkit.

“Data perdagangan Agustus memperkuat pandangan DBS Group Research bahwa tahun 2022 akan menandai tahun kedua berturut-turut surplus transaksi berjalan. Ini menjadi pertanda baik bagi stabilitas eksteral dan prospek mata uang,” kata Radhika.

Memasuki tahun 2023, penurunan harga komoditas dan peningkatan impor seiring dengan pulihnya permintaan domestik diperkirakan akan mendorong defisit tipis neraca transaksi berjalan.

“Pasar obligasi mulai menunjukkan arus yang keluar, sementara kinerja ekuitas yang melampaui pasar menarik minat investor. Investasi asing meningkat secara stabil, dan ini diharapkan menjaga kelancaran neraca pembayaran secara keseluruhan tetap terkendali,” ucap dia.


Secara global, beberapa sentimen lain seperti kebijakan net zero Covid-19 di China juga mempengaruhi pasar Asia. China banyak melakukan lockdown di beberapa daerah sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi negara Tirai Bambu itu.

“Pertumbuhan ekonomi China yang melambat, ditambah masalah geopolitik Rusia dan Ukraina juga perlu menjadi perhatian, karena bisa menyebabkan masalah pasokan,” kata dia.

Radhika memperkirakan dengan kebijakan The Fed tersebut, maka Bank Indonesia berpotensi akan menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin pada rapat Dewan Gubernur (RDG) BI siang ini.

“Ada kemungkinan di mana Bank Indonesia akan menaikkan suku bunganya menjadi 50 basis poin, mengikuti kenaikan suku bunga The Fed ,” ujarnya.

Sementara itu, Head of Trading Treasury and Market, DBS Bank Ronny Setiawan mengatakan The Fed masih akan berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga akhir tahun hingga 4,5 persen.

Dia mengatakan, di pasar global Indeks S&P 500 seluruhnya sudah mengalami penurunan kecuali sektor energi.

“IHSG kita konsentrasinya banyak di komoditi dan perbankan. Jadi, so far kalau kita lihat, IHSG kita positif ya, dan belum ada dampak dari kenaikan suku bunga The Fed. Ekonominya kita tidak buruk ya, selama GDP-nya positif jadi sebenarnya orang masih menghasilkan profit,” kata dia.