infonesia.xyz – Pemerintah Kota Surabaya meningkatkan kualitas paving produksi dari masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mengikuti program padat karya pembuatan paving.

Kepala Bidang (Kabid) Jalan dan Jembatan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya Adi Gunita di Surabaya, Sabtu, mengatakan, pihaknya telah memberikan pelatihan padat karya pembuatan paving kepada MBR.

“Untuk mutu paving sebenarnya yang kami targetkan adalah minimal K175, tapi dalam faktanya yang dihasilkan teman-teman MBR itu lebih tinggi dari yang kita tetapkan. Kami sudah melakukan uji di ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan sudah keluar, rata-rata (di atas) K300,” kata Adi.

Menurut Adi, secara campuran dan komposisi, memang untuk mutu paving yang akan dihasilkan adalah minimal K175. Tapi faktanya, produk paving yang dihasilkan MBR justru melebihi ekspektasi dengan rata-rata di atas K300.

“Pada waktu kami memberikan edukasi, secara campuran sudah sesuai dengan tepat,” ujar dia.

Meski demikian, kata dia, pihaknya selalu menekankan kepada kelompok usaha padat karya pembuatan paving agar tidak mengabaikan segi kualitas. Walaupun secara kuantitas, produksi paving yang akan dihasilkan mereka itu nantinya banyak.

“Yang penting kami tekankan mutu agar tetap dijaga. Soalnya terkadang kami genjot secara produksi, akhirnya dari sisi kualitas terabaikan. Itu yang mungkin kontrolnya dari kami kepada teman-teman MBR,” ujar dia.

Adi juga menjelaskan, kualitas paving K300 tersebut, standar digunakan untuk jalan yang biasa dilintasi oleh kendaraan mobil, pickup, truk kecil dan motor. “Jadi kalau K300 itu seperti di jalan-jalan yang memang bisa dilintasi oleh kendaraan. Dalam hal ini mobil itu bisa,” kata dia.

Sementara kualitas paving K175 ini, kata Adi, diperuntukkan bagi jalan yang biasa dilintasi pejalan kaki serta kendaraan roda dua. Artinya, paving kualitas K175 dengan ukuran 10x20x6 sentimeter tersebut, digunakan untuk pembangunan jalan yang memiliki lebar kurang dari 2 meter.

“Rencana hasil produksi (K175) teman-teman ini sebenarnya untuk lebar jalan yang kurang dari 2 meter, atau biasa dilalui pejalan kaki. Tapi dalam prosesnya, mereka bisa menghasilkan rata-rata K300,” kata Adi.

Dengan melihat kualitas paving yang dihasilkan MBR, lanjut dia, pihaknya mengaku optimistis, produk mereka ke depan pemasarannya dapat lebih luas. Artinya, paving yang dihasilkan kelompok usaha padat karya ini ke depan diharapkan tak hanya dipasarkan di lingkungan Pemkot Surabaya.

“Bisa jadi dalam jangka panjangnya produksi paving mereka ini tidak hanya dipasarkan di lingkungan Pemkot Surabaya sendiri, tapi bisa jadi ke swasta juga,” kata dia.

Salah satu MBR warga Kelurahan Ploso, Tambaksari, Surabaya, Syaiful Anam mengaku, taraf hidupnya kini lebih meningkat.

“Sebelumnya bekerja ojek daring. Lalu buka warung kopi, tapi kena pandemi COVID-19 akhirnya sepi. Sekarang ikut padat karya pembuatan paving,” kata Anam.