infonesia.xyz – Siapa tak kenal dengan Adolf Hitler . Dia adalah seorang politisi Jerman dan Ketua Partai Nazi kelahiran Austria yang menyeret Jerman dalam Perang Dunia II (PD II).

Meski dikenal sebagai diktator Jerman bergelar Führer und Reichskanzler, Hitler bisa dikatakan cukup sukses mengambil hati rakyat Jerman, terutama gerenasi muda, dengan berbagai program-program perbaikan ekonomi .

Kondisi perekonomian Jerman sangat terpuruk karena hancurnya industri mereka. Banyak industri Jerman kolaps setelah kota-kota yang menjadi pusat industri luluh lantak akibat PD I.

Pemerintah Jerman juga semakin menderita harus membayar ganti rugi perang atau pampasan perang yang jumlahnya mencapai 132 miliar Mark kepada pihak pemenang dari hasil Perjanjian Versailles di Prancis.

Pada tahun 1933, angka pengangguran di Jerman bahkan mencapai 24 persen atau lebih dari 6 juta orang menggangur. Rating kredit Jerman juga anjlok dengan sistem perbankan negara itu yang morat-marit.

Lalu bagaimana Hitler membangun ekonomi Jerman yang hampir jadi negara bangkrut setelah Partai Nazi menjadi penguasa?

Dikutip dari BBC, Adolf Hitler sebenarnya banyak menguraikan ide-ide pembangunan ekonomi negara dalam buku karangannya, Mein Kampf. Berikut ini sejumlah program ekonomi yang diluncurkan Hitler selama memerintah Jerman pada periode 1933-1945.

1. Kemandirian

Hitler meluncurkan program bernama Autarky atau konsep mandiri ala Jerman sekaligus untuk menghilangkan pengangguran di Jerman. Hitler bahkan memiliki target ambisius, yakni tak ada satu pun pengangguran resmi di Jerman pada tahun 1939.

Cara yang dilakukan Hitler yakni dengan menggencarkan program-program infrastruktur yang menyerap banyak tenaga kerja Jerman seperti pembangunan jalan, kereta api, dan perumahan. Hampir seluruhnya didanai negara, sebagian lagi berasal dari utang luar negeri.

Selain itu di era Nazi, banyak proyek mercusuar yang didanai pemerintah seperti pembangunan rumah sakit, bendungan, gedung teater, hingga stadion.

Untuk mendukung semua pembangunan infrastruktur tersebut, Dinas Tenaga Kerja Jerman atau Reichsarbeitsdients (RAD) didirikan pada tahun 1935. Tugasnya adalah mewajibkan dan mendoktrin kaum muda yang dipekerjakan dalam skema pekerjaan umum selama enam bulan.

Para pekerja ini diberi ban lengan, sepeda, dan sekop, dan mereka diperintahkan untuk pergi ke lokasi konstruksi terdekat. Mereka juga diperintahkan untuk bekerja di sektor lain seperti pertanian.

Sifatnya sukarela pada awal penerapan, tetapi wajib dari tahun 1935, di mana setiap pria berusia antara 18-25 harus ikut bekerja dengan upah yang cukup.

2. Industri militer digencarkan

Selain infrastruktur sipil, selama berkuasanya Partai Nazi, banyak pekerja terserap untuk membangun proyek-proyek militer dalam skala masif. Pesatnya pembangunan militer Jerman memicu pertumbuhan industri persenjataan yang sebelumnya sempat mati suri.

Secara tidak langsung, industri militer membuat industri terkait seperti industri baja, industri pesawat terbang, dan pembuatan kapal berkembang maju di era Nazi yang pada akhirnya bisa menyerap banyak pekerja.

Industri senjata berkontribusi atas sebagian besar pertumbuhan ekonomi antara tahun 1933 dan 1938. Program persenjataan kembali dimulai segera setelah Hitler berkuasa, namun baru secara resmi diumumkan Hitler pada tahun 1935.

Pada tahun 1933, dana sebesar 3,5 miliar mark dihabiskan untuk memproduksi tank, pesawat terbang, dan kapal, dan pada 1939 yang jumlahnya menjadi 26 miliar mark.

Ini menciptakan jutaan pekerjaan bagi pekerja Jerman. Penggunaan minyak, besi dan baja semuanya tiga kali lipat, menciptakan berbagai pekerjaan yang berbeda di sektor lain.

3. Bangun ribuan km jalan tol

Sisi baik dari Nazi Jerman adalah soal infrastruktur jalan tol atau autobahn. Hitler membangun ribuan kilometer jaringan jalan tol di Jerman hanya dalam kurun waktu singkat yang saling menghubungkan kota-kota industri sepanjang 7.000 kilometer.

Pembangunan autobahn juga menyerap 80.000 pekerja selama masa konstruksinya. Selain itu, pembangunan jalan tol yang masif ini mendorong pertumbuhan industri otomotif Jerman.

Industri di Jerman sangat terbantu dengan kehadiran jalan tol yang dibangun Nazi karena ongkos logistik yang turun drastis.

4. Melarang impor

Di era Nazi, Jerman benar-benar menutup hampir semua barang impor yang masuk ke negaranya. Impor hanya diizinkan untuk barang-barang bersifat strategis dan tak mampu diproduksi di dalam negeri.

Untuk kemandirian pangan, lahan-lahan juga dibuka untuk membuat kebutuhan pangan tercukupi dari dalam negeri, baik dari sektor pertanian maupun peternakan. Selain tak ada persaingan dengan komoditas pertanian impor, para petani Jerman juga menikmati subsidi dari pemerintah.

Namun kebijakan untuk kemandirian pangan ini tak begitu berhasil mengingat banyak pekerja yang terserap ke sektor industri dan masalah keterbatasan lahan. Menjelang pecahnya Perang Dunia Kedua, Jerman masih mengimpor 20 persen makanan.

5. Peningkatan kualitas hidup

Kehidupan di Jerman di era Nazi bisa dibilang banyak mengalami perbaikan. Setiap orang memiliki pekerjaan dan upah yang cukup. Nazi sampai mendirikan badan untuk menyelenggarakan hiburan bagi warganya bernama KdF.

Badan tersebut menyelenggarakkan hiburan rakyat seperti bioskop, teater, dan paket liburan yang semuanya diberikan secara gratis dengan syarat-syarat tertentu yang tak begitu sulit.

Orang Jerman yang bekerja di konstruksi juga diberikan akses untuk fasilitas umum seperti rumah sakit dan pendidikan.

Bahkan, Nazi merancang skema untuk memungkinkan pekerja membeli mobil Volkswagen Beetle dengan pembayaran cicilan mingguan yang kecil.