infonesia.xyzJakarta, CNBC Indonesia – Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung beragam pada perdagangan Jumat (23/9/2022), di tengah sikap investor yang masih menimbang sikap agresif bank sentral Amerika Serikat (AS) dan dampaknya terhadap perekonomian global.

Indeks Shanghai Composite China dibuka naik tipis 0,01%, ASX 200 Australia menguat 0,13%, dan KOSPI Korea Selatan juga naik tipis 0,02%.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,57% dan Straits Times Singapura merosot 0,71%.

Sementara untuk indeks Nikkei Jepang pada hari ini tidak dibuka karena adanya libur nasional memperingati Hari Ekuinoks Musim Gugur.

Dari Singapura, data inflasi pada periode Agustus 2022 akan dirilis pada hari ini, di mana pelaku pasar memperkirakan inflasi di Negeri Singa tersebut kembali naik.

Cenderung beragamnya bursa Asia-Pasifik pada hari ini terjadi di tengah kembali lesunya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin waktu setempat, pasca pengumuman kenaikan suku bunga yang masih agresif oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Indeks Dow Jones ditutup melemah 0,35% ke posisi 30.076,68, S&P 500 merosot 0,84% ke 3.757,99, dan Nasdaq Composite ambles 1,37% menjadi 11.066,81.

Investor semakin khawatir bahwa kebijakan The Fed untuk mengekang inflasi yang masih liar akan mendorong ekonomi ke jurang resesi.

Dini hari kemarin waktu Indonesia, The Fed resmi menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 75 basis poin (bp) dalam kali ketiga beruntun.

Keputusan yang diperoleh dengan suara bulat 12 anggota komite tersebut akan menaikkan suku bunga acuan AS atau Federal Funds Rate (FFR) ke kisaran antara 3% dan 3,25%, level yang terakhir terlihat pada awal 2008.

“The Fed membuka jalan bagi sebagian besar ekonomi dunia untuk melanjutkan kenaikan suku bunga yang agresif yang [berpotensi] menyebabkan resesi global, dan seberapa parahnya akan ditentukan pada berapa lama inflasi turun,” kata Edward Moya, analis pasar senior di Oanda, dilansir CNBC International.

Kenaikan siklus kali ini sejatinya sesuai dengan ekspektasi pasar, akan tetapi komentar The Fed yang mengindikasikan The Fed tetap hawkish membuat investor makin waswas.

Tingkat suku bunga terminal atau posisi FFR, di mana bank sentral akan mengakhiri rezim pengetatannya diproyeksikan akan mencapai 4,6%.

Selanjutnya, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali melonjak. Penjualan massif terjadi baik itu di surat utang tenor jangka pendek maupun jangka panjang.

Yield Treasury tenor 10 tahun dan 2 tahun mencapai angka tertinggi multi-tahun baru. Yield Treasury tenor 10 tahun tembus 3,705%, menjadi peningkatan satu hari terbesar sejak Juni lalu.

Sedangkan untuk yield Treasury tenor 2 tahun menembus 4,126%, menjadi yang tertinggi sejak tahun 2007 silam.

Hal ini menandakan bahwa kenaikan yield Treasury kemarin bukan sekadar tanggapan atas rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga, yang mana seharusnya hanya berdampak pada dilepasnya obligasi jangka pendek oleh investor.

Ada spekulasi di Wall Street bahwa penjualan Treasury didorong setidaknya sebagian oleh keputusan Jepang untuk memperkuat yen dengan menjual dolar dan membeli mata uang Jepang. Namun, belum ada bukti nyata tentang efek itu.

Sebelumnya, Gubernur bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ), Haruhiko Kuroda mengisyaratkan bahwa suku bunga Negeri Sakura kemungkinan akan tetap mendekati nol selama beberapa tahun ke depan.

Kurang dari satu jam kemudian, pemerintah mengatakan telah melakukan intervensi di pasar valas untuk menjual dolar dan membeli yen. Langkah seperti ini merupakan yang pertama sejak 1998.

TIM RISET CNBC INDONESIA