infonesia.xyz – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bercerita awal mula dirinya menjabat sebagai Presiden Inter Milan . Dalam obrolan bersama Helmi Yahya, Erick bercerita hal tersebut berawal dari kecintaannya akan sepak bola, dan juga sebagai salah satu fans Inter Milan.

Erick mengatakan, awal mula dirinya menjadi fans I Nerazzurri atau Si Biru Hitam yakni saat club sepak bola asal Italia tersebut membangun Trio Jerman. Era Trio Jerman merupakan masa kejayaan tim Inter Milan yang didukung oleh tiga pemain kunci, yakni Lothar Matthaus, Andreas Brehme, dan Jurgen Klinsmann. Saat itu, Presiden Inter Milan masih dijabat oleh Massimo Moratti.

“Saya fans Inter Milan, ketika mereka membangun yang namanya Trio Jerman. Lalu, Inter Milan membawa Ronaldo Luiz Nazario de Lima,” ujar Erick seperti dikutip dari Instagram @erickthohir, Kamis (22/9/2022).

Erick menilai, olah raga merupakan sebuah konten yang mahal. Di sisi lain, ia juga mengambil kesempatan untuk mencetak sejarah pada tim olah raga dengan sejarah dan nama besar. Seperti Philadelphia 76ers, tim bola basket Amerika yang tergabung dalam National Basketball Association.

Ada juga D.C. United, klub sepak bola profesional asal Amerika Serikat yang berkompetisi di Major League Soccer dan berbasis di Washington, DC.

“Kenapa beli 76ers? Kenapa beli D.C. United? Karena konten olah raga itu konten termahal, dan itu tidak bisa ditonton tidak live. Kan waktu saya mengambil alih D.C. United itu, klub yang punya history besar,” lanjutnya.


Erick juga sempat diajak makan bersama Presiden Inter Milan Massimo Moratti kala itu. Saat jamuan makan, Erick mengatakan dirinya sempat bercerita tentang keluarganya kepada Moratti. Erick mengaku senang dan bangga kala itu.

“Malamnya saya diundang makan di rumah pribadi Moratti. Ditanya siapa keluarga saya, ya saya ceritain, bapak saya orang miskin. Emang bener kok. Saya pengusaha,” kata dia.

Erick mengatakan, saat ia tiba di Indonesia, ia ditawari membeli salah satu klub sepak bola asal Eropa, namun ia tidak terlalu mengambil pusing tawaran tersebut. Selain harga membeli klub yang mahal, Erick hanya tertarik pada klub sepak bola Italia.

“Beberapa bulan saya pulang ke Indonesia, saya dikontak lagi, ditanya apakah tertarik membeli klub sepak bola Eropa? Saya bilang, saya itung-itung dulu harganya. Lalu, saya bilang kalau Inggris saya belum siap, saya tertariknya Italia,” kata dia.

Ternyata tawaran klub sepak bola tersebut sesuai dengan keinginan Erick. Sebab Erick ditawari membeli saham Inter Milan.

Saat itu, Erick tak buru-buru mengambil kesempatan itu. Ia mulai yakin membeli saham Inter Milan saat ia beribadah umroh, dan melihat seseorang menggunakan baju Inter Milan dengan nomor 10.

“Tiba-tiba sebelah kanan depan saya itu pakai baju Inter Milan dengan nomor 10-Sneijder. Saya kemudian datang ke Kantor Inter Milan, dan langsung masuk menemui Moratti. Moratti bertanya mengapa saya tidak melihat Trophy Room. Saya bilang, buat Trophy itu ada di sini,” kata Erik sambil senyum.