infonesia.xyz – PT Astra International Tbk berkomitmen mendukung pertemuan ketiga Kelompok Kerja Sektor Perdagangan, Investasi dan Industri (Trade, Investment and Industry Working Group/TIIWG) serta Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan, Industri dan Investasi (Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting/TIIMM) Presidensi G20 Indonesia.

“Astra berharap dukungan ini dapat membantu melancarkan Ministerial Statement G20 tentang perdagangan, investasi dan industri yang menjadi agenda utama pertemuan TIIWG dan TIIMM yang ditargetkan menghasilkan kesepakatan kelompok kerja dan pernyataan bersama,” ujar Chief of Corporate Affairs Astra International Riza Deliansyah dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Riza mengatakan semangat Astra dalam menyukseskan Pertemuan Ketiga TIIWG dan pertemuan TIIMM Presidensi G20 Indonesia di Nusa Dua, Bali dari tanggal 19 hingga 23 September 2022 sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa dan mendukung Sustainable Development Goals Indonesia.

Dukungan tersebut berupa 90 unit kendaraan dari Grup Astra yang disiapkan sebagai fasilitas bagi para delegasi yang hadir dan diharapkan dapat melancarkan operasional selama kegiatan berlangsung.

Selain itu, Astra juga turut berpartisipasi dalam TII G20 Exposition, sebuah pameran produk yang mengusung tema sustainability.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebutkan pembahasan sektor industri pada gelaran TIIMMG20 menjadi momen bersejarah bagi Indonesia.

Menperin memaparkan forum G20 lahir sebagai respons terhadap krisis ekonomi global pada 1997–1998, yang mendesak pemerintah menemukan solusi bersama agar dunia dapat keluar dari krisis yang berkepanjangan dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.

Kini dunia kembali dilanda krisis multidimensi akibat pandemi COVID-19. Pembatasan sosial telah mengakibatkan penurunan atas permintaan barang dan jasa, mendisrupsi rantai pasok global dan mengakibatkan resesi secara keseluruhan.

Tidak seperti krisis-krisis dunia sebelumnya, dunia mengenal sebuah istilah yang disebut dengan ‘konektivitas digital’ pada krisis kali ini, yang kemudian mengakselerasi digitalisasi di berbagai aktivitas ekonomi.

Karakteristik dari digitalisasi yang tidak tatap muka itu kini menjadi semakin relevan, khususnya pada saat pandemi. Karakteristik yang dibawa oleh era Revolusi Industri keempat itu, memungkinkan industri terus beroperasi dari jarak jauh meskipun dalam periode lockdown, membuat industri yang maju secara digital lebih mampu menghadapi dampak pandemi dan menyesuaikan dengan normalitas baru.