infonesia.xyz – Parameter utamanya adalah ketaatan pada azas koperasi, loyalitas dan partisipasi anggota dan kinerja usaha.

Taat azas ditunjukkan dengan tertib menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dalam penilaian ini mengambil data angka berdasar RAT Tahun Buku 2020.

Penulis buku ini Irsyad Muchtar mengatakan, tergerak untuk menulis dan mengangkat profil koprim di lingkungan pemerintahan karena potensi ekonominya yang cukup baik dalam menopang kebutuhan dan kesejahteraan anggotanya.

Namun Irsyad mengakui kinerja usaha koprim umumnya belum memenuhi skala ekonomi layak lantaran lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan anggota ketimbang mengejar profit.

“Namun kita juga patut berbangga ada pula koprim yang mampu mencetak aset ratusan miliar, bahkan satu di antaranya mampu mencapai aset lebih dari satu triliun rupiah,” ujarnya saat peluncuran Buku 100 Koperasi Primer Terbaik Anggota PKPRI DKI Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Menjelaskan inisiasi penerbitan buku ini, Irsyad mengakui ada anggapan bahwa upaya yang dilakukannya tidak populer lantaran kinerja koprim yang rerata rendah.

”Saya ingin menepis asumsi yang keliru tersebut, bahwa cukup banyak koprim yang mampu mencetak kinerja unggul. Dalam buku ini sedikitnya ada 7 koprim memiliki aset di atas Rp 100 miliar, dengan tata Kelola usaha profesional,” tuturnya.Dalam konteks tersebut, Irsyad mengambil Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ) yang berada dalam klaster sekolah.

Meskipun anggotanya hanya para guru sekolah dasar di seantero DKI Jakarta, namun koperasi berusia 70 tahun dengan total aset Rp 225 miliar ini memiliki kantor sendiri di luar sekolah dan mampu menerobos bisnis lainnya di luar sekolah, seperti membuka unit SPBU dan keagenan gas LPG.

Hal yang sama terlihat pada Koperasi Pegawai Pemda DKI Jakarta (KPPD) yang juga sudah berkantor sendiri di luar lingkungan kantor pemda DKI Jakarta.

Dari sebanyak 30 koprim di lingkungan Pemda DKI Jakarta, 6 koprim berhasil masuk katagori terbaik, selebihnya tidak menggelar RAT dan bahkan ada yang bubar.

Fakta tersebut diakui oleh Ketua Umum PKPRI DKI Jakarta Syahnas Rasyid dalam kata sambutannya: “Kami juga sadar bahwa cukup banyak koprim yang kinerjanya masih belum memenuhi harapan para anggotanya, ada yang lalai menggelar RAT tepat waktu, bahkan ada pula koprim yang beku, baik karena instasinya bubar ataupun pengurus yang gagal mengonsolidasi organisasi dan usaha.”Kondisi tersebut, lanjut Syahnas, menjadi pekerjaan rumah bagi PKPRI DKI Jakarta untuk lebih proaktif memberikan arahan kepada koprim yang jadi anggotanya.

“Kami juga berharap pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan UKM melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi DKI Jakarta dapat memberikan dukungan yang intensif dan berkesinambungan sehingga pada gelaran acara yang sama di tahun berikutnya, semakin banyak muncul koprim dengan kinerja yang lebih unggul,” jelasnya.

Sementara itu, keberhasilan sejumlah koprim yang mampu memiliki kantor sendiri di luar lingkungan kantor induk instansinya, sambung Irsyad, membuktikan bahwa koprim bukan usaha ecek-ecek.

“Koprim juga seperti bisnis koperasi lainnya, mampu tampil besar sepanjang punya tata kelola yang baik, transparan dan kredibel,” pungkasnya.

Apresiasi Lima TerbaikBersamaan dengan acara launching buku tersebut juga diberikan penghargaan kepada koprim terbaik berdasarkan kategori klaster masing-masing.

Ketua Penyelenggara pemberian penghargaan Yuni Hegarwati mengatakan dari total 100 koprim terbaik tersebut, dipilih lagi empat terbaik berdasar klaster masing-masing lembaga, yaitu koprim terbaik di lingkungan Kementerian dan Lembaga, klaster BUMN/BUMD, klaster Pemda DKI Jakarta dan klaster Koperasi di lingkungan sekolah.

Koperasi Karyawan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (Kokarhutan) meraih penghargaan tertinggi untuk klaster Kementerian dan Lembaga, Koperasi Pegawai Pos Indonesia (Kopposindo) di klaster BUMN/BUMD, KPPD di klaster Pemda DKI Jakarta dan KKGJ di klaster lingkungan sekolah.

Total aset dikatongi 100 koprim terbaik tersebut mencapai Rp 2,5 triliun, volume usaha Rp 1,6 trilun, anggota 90.598 dengan rerata produktivitas transaksi dengan koperasi sebesar Rp18,3 juta per orang per tahun.Sementara, Koperasi Karyawan Indosat (Kopindosat) meraih penghargaan khusus, Koperasi Primer dengan pencapaian aset tertinggi bahkan pernah menembus lebih dari Rp 1 triliun.